KABUPATEN SEMARANG ||sidikutama.my.id - Pemerintah Provinsi Jawa Tengah menyiapkan langkah intervensi untuk menahan laju kenaikan harga bahan pokok menjelang Ramadan. Sebanyak 308 Gerakan Pangan Murah (GPM) dijadwalkan digelar di seluruh kabupaten/kota hingga Maret 2026, disertai operasi pasar dan subsidi harga cabai.
Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, memulai pemantauan harga bersama Bupati Semarang, Ngesti Nugraha, di Pasar Projo Ambarawa, Jumat pagi, 20 Februari 2026. Keduanya tiba sekitar pukul 07.00 WIB dan berkeliling pasar, berdialog dengan pedagang serta pembeli untuk memastikan ketersediaan stok dan kestabilan harga.
Dari hasil pantauan, sebagian besar komoditas terpantau relatif terkendali. Namun, harga cabai rawit merah dan bawang merah tercatat melampaui Harga Acuan Pemerintah (HAP) serta di atas rata-rata harga provinsi. Cabai rawit merah bahkan menembus Rp 80 ribu per kilogram.
Menanggapi kondisi itu, Luthfi menginstruksikan Badan Usaha Milik Daerah Jateng Agro Berdikari (JTAB) segera melakukan operasi pasar pada komoditas yang mengalami lonjakan harga. Pemerintah provinsi juga menetapkan subsidi cabai sehingga dapat dijual ke konsumen seharga Rp 65 ribu per kilogram.
“Komoditas yang naik segera ditindaklanjuti. Koordinasikan dengan dinas dan instansi terkait,” ujar Luthfi seusai peninjauan.
Kepala Bidang Ketersediaan dan Stabilisasi Pasokan Pangan Dinas Ketahanan Pangan Jawa Tengah, Sri Broto Rini, mengatakan secara umum stok 12 komoditas pangan strategis dalam kondisi aman menjelang Ramadan. Jawa Tengah bahkan mencatat surplus beras dalam jumlah besar.
Kenaikan harga, menurut Rini, terjadi pada sejumlah komoditas, termasuk cabai, daging ayam, dan daging sapi. Meski demikian, harga daging masih berada di bawah batas HAP. Untuk cabai, lonjakan dipengaruhi tingginya permintaan dari luar daerah, terutama Jakarta, yang harga cabainya telah menyentuh Rp 100 ribu per kilogram. Perbedaan harga itu mendorong distribusi pasokan keluar daerah dan berdampak pada harga di tingkat lokal.
Melalui kombinasi operasi pasar, subsidi harga, dan pelaksanaan 308 GPM, pemerintah provinsi berharap gejolak harga dapat diredam dan daya beli masyarakat tetap terjaga hingga Idulfitri. Intervensi ini sekaligus menjadi upaya menjaga stabilitas pasokan di tengah meningkatnya kebutuhan konsumsi selama bulan puasa.
(Ganang)
