TUBAN sidikutama.my.id - 28 Februari 2025 - Pada sore yang tenang, saya, Ihwan, menyeberangi Bengawan Solo menggunakan perahu. Bengawan Solo, sungai terpanjang di Pulau Jawa, saat itu sedang mengalami pasang, sehingga airnya tampak lebih besar dan deras dibandingkan biasanya.
Saat perahu bergerak perlahan di atas air, saya mengamati pemandangan dari berbagai sudut. Di sisi kanan dan kiri sungai, terlihat hamparan air yang luas dengan arus yang mengalir cukup kuat. Warna air kecokelatan khas sungai besar semakin mempertegas betapa derasnya aliran Bengawan Solo sore itu.
Langit mulai berubah warna menjadi jingga keemasan, menciptakan refleksi yang indah di permukaan air. Angin sepoi-sepoi yang berhembus menambah kesejukan di tengah perjalanan. Dari kejauhan, tampak beberapa nelayan lokal yang sedang mencari ikan dengan jaring tradisional. Mereka tampak terbiasa dengan kondisi air yang tinggi, menunjukkan betapa eratnya hubungan mereka dengan sungai ini.
Bengawan Solo bukan sekadar sungai biasa bagi masyarakat sekitar. Sungai ini memiliki nilai sejarah dan budaya yang mendalam. Dahulu, sungai ini menjadi jalur perdagangan penting, dan hingga kini masih berperan dalam kehidupan sehari-hari warga, baik sebagai sumber mata pencaharian maupun sarana transportasi tradisional.
Perahu yang saya tumpangi terus melaju, membawa saya melintasi salah satu ikon alam yang penuh makna. yang menggambarkan keindahan dan keagungan sungai ini.
Sore itu, saya menyaksikan sendiri betapa Bengawan Solo tetap menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat Tuban, mengalir tenang namun penuh cerita yang tak lekang oleh waktu.
Reporter : Ihwan

