JAKARTA sidikutama.my.id - Sebuah yayasan atau Foundation yang menyediakan dana abadi khusus untuk penghargaaan penulisan seperti yang dilakukan oleh Denny JA untuk empat katagori yang telah mulai dilakukan sejak setahun silam, 2024 dengan bentuk bantuan dana yang tak terbilang kecil nilainya.
Empat katagori penghargaan terhadap karya tulis itu pertama wujudnya adalah Lifetime Achievement Award yang telah diterima oleh Ahmad Tohari. Kedua, karya fiksi untuk Ester Haluk, penyair perempuan dan aktivis yang menulis puisi tantang Papua. Ketiga, karya non fiksi yang diterima oleh Dion Mokoginta yang menulis ulang tentang sejarah lokal dengan narasi yang berbeda. Lalu untuk karya puisi esai International diberikan kepada Jasni Matlani dari Malaysia yang memperluas tapal batas puisi esai ke Asia Tenggara.
Penghargaan ini, kata Denny JA selalu penggagas dan pemilik Denny JA Foundation ini bukan nilai uangnya, tetapi arah dari pandangan : ke tepian.karena bukan pula sekedar penyegar. Karena nilai yang tidak kalah penting dari penghargaan ini adalah investasi substansi untuk jangka panjang.Oleh karena itu, ide dan gagasan serta praktik dari pelaksanaan program Denny JA Foundation yang sudah terwujud patut dan pantas untuk didukung sepenuh hati agar dapat terus melaju dan dapat terus berkembang merambah wilayah habitat penulisan yang belum terjamah. Sebab tidak sedikit dari penulis Indonesia khususnya yang berbakat dan memiliki potensi besar untuk tetap menekuni profesi penulis layu sebelum berkembang akibat iklim penulisan di negeri kita yang gersang. Setidaknya, saya sudah beberapa menurunkan tulisan yang memuat gagasan agar pemerintah memberi dukungan - atau semacam subsidi tetap - bagi para penulis yang telah menunjukkan karya terbaiknya dapat semakin bergairah menuangkan pikiran atau gagasannya yang cemerlang dan jenial untuk ikut membangun kesadaran dan perluasan wawasan melalui beragam macam bahan bacaan. Kecuali itu - setidaknya -- agar bisa membangkitkan minat baca anak bangsa yang semakin melorot akibat sikap yang dimanjakan oleh fasilitas teknologi digital yang brutal. Sehingga, tak hanya karya tulis yang semakin tersisihkan, tapi juga minat baca literasi kepustakaan yang terancam punah.
Begitulah tantangan pergeseran suka cita selera dan takaran hidup, tak lagi bangga untuk mewariskan kekayaan dalam bentuk kepustakaan, karena sejumlah koleksi kendaraan mewah terbaru dan langka telah menjadi standar gengsi atau kebanggaan untuk membuktikan hidup yang sukses. Dalam konteks inilah sangat relevan untuk segera menyandingkan arus material dengan tradisi dan budaya spiritual harus tetap bergerak dan bangkit guna memberi keseimbangan hidup yang tidak hanya sebatas lahir, tetapi juga batin.
Dislokasi budaya, tradisi serta tatanan adat istiadat warga bangsa Indonesia yang kaya, perlu dipulihkan dari kondisi mati dirinya yang berkepanjangan. Sehingga jalan setapak menuju masa keemasan Sriwijaya, Kutai Kertanegara dan Galuh hingga Mataram kuno tetap bisa ditelusuri dengan panorama sejarah, situs serta aksara dan bahasa daerah yang khas. Tidak dimiliki oleh bangsa lain, seperti Borobudur, Candi Muara Takus, kedukaan bukit di tepi sungai Musi dan prasasti Talang Tua di Palembang. Bahkan tercatat sebagai pusat pendidikan agama Budha terbilang besar di dunia, bersanding dengan pusat budaya dan keagamaan di India.
Yayasan yang menaruh kepedulian terhadap budaya - penulisan sekaligus bergiat melakukan diskusi, seminar serta kajian - yang tampaknya menjadi fokus Denny JA Foundation - nyaris tak ada di Indonesia, kecuali yang berada di bawah perwakilan negara asing, seperti Yayasan Karta Pustaka (Belanda), Yayasan Indonesia Francis di Yogyakarta. Kalau pun dahulu sempat aktif agak progresif Yayasan Moch. Hatta, kini tak lagi terdengar aktivitas dan gebrakannya. Karena itu, kehadiran Denny JA Foundation yang beranjak dari nyali intelektual yang penuh nuansa spiritual, sungguh membanggakan. Apalagi semua itu berdiri tegak dari dana p.
Reporter : Karjoko
