SURABAYA || sidikutama.my.id - 1 Januari 2026 hari kamis pagi pukul pukul 08.26 di Surabaya Secangkir kopi hitam selalu punya cara sendiri untuk menemani pagi. Warnanya yang pekat dan aromanya yang kuat seolah menjadi penanda awal hari bagi banyak orang. Bukan sekadar minuman, kopi hitam telah menjelma menjadi teman setia saat merenung, bekerja, maupun berbincang santai.
Di balik kesederhanaannya, kopi hitam menyimpan proses panjang. Dari biji kopi pilihan yang dipetik, dijemur, disangrai, hingga diseduh dengan takaran yang pas. Setiap tahap memberi pengaruh pada rasa akhir yang hadir di dalam cangkir, entah itu pahit tajam atau pahit lembut yang menenangkan.
Bagi sebagian penikmat, kopi hitam adalah simbol kejujuran rasa. Tanpa gula dan tanpa campuran, ia hadir apa adanya. Rasa pahitnya justru mengajarkan bahwa tidak semua hal harus manis untuk bisa dinikmati, sama seperti kehidupan yang penuh dinamika.
"Menyeruput kopi hitam di pagi hari juga sering menjadi momen refleksi. Dalam diam, pikiran mengalir bebas, merangkai rencana, harapan, dan doa. Tak jarang, ide-ide sederhana hingga gagasan besar lahir dari meja kecil dengan secangkir kopi sebagai saksi."terang Zubaidi
Di berbagai sudut kota hingga desa, kopi hitam menyatukan banyak cerita. Di warung sederhana, ia menjadi pengikat obrolan hangat. Di meja kerja, ia menjadi penyemangat agar tetap fokus. Kopi hitam tidak memilih siapa penikmatnya, semua disambut dengan rasa yang sama.
Akhirnya, secangkir kopi hitam bukan hanya soal minum, tetapi tentang menikmati waktu. Tentang jeda sejenak dari hiruk-pikuk dunia. Dan tentang menemukan ketenangan dalam kesederhanaan yang sering kali kita lupakan.
Reporter : Ihwan
