Kisah kelahiran Anoman disajikan dengan kuat dan komunikatif, menghidupkan kembali nilai keberanian, kesetiaan, dan keteguhan laku hidup yang menjadi inti ajaran wayang. Dengan gaya khas Dhung Bantheng yang dinamis, Ki Agung Mangku Darsono mampu menjembatani pakem tradisi dengan rasa pertunjukan yang membumi bagi penonton lintas generasi.
Pagelaran ini turut dihadiri Dr. H. Anang Budi Utomo, S.Sn., M.Pd., Ketua PEPADI Kota Semarang sekaligus anggota DPRD Kota Semarang, yang dikenal aktif mendukung keberlangsungan sanggar dan komunitas seni tradisi.
Dalam wawancara di sela acara, Anang menegaskan bahwa wayang kulit memiliki peran strategis dalam pembangunan kebudayaan.
“Wayang bukan sekadar tontonan malam hari, tapi media pendidikan karakter dan identitas bangsa. Tradisi Malam Jumat Kliwon seperti ini adalah bukti bahwa budaya masih hidup karena dirawat bersama,” ujarnya.
Ia juga menekankan pentingnya sinergi antara seniman, komunitas, dan pemerintah daerah.
“Pelaku seni tidak boleh berjalan sendiri. Sanggar, dalang, pengrawit, hingga anak-anak perlu ruang tampil dan kontinuitas. Inilah bentuk dukungan nyata yang harus terus diperkuat,” tambahnya.
Ketua Teater Lingkar Semarang, Ki Sindhunata Gesit, S.Sn., M.Sn., menyampaikan bahwa Pagelaran Wayang Kulit Malam Jumat Kliwon merupakan bagian dari upaya nguri-uri budaya yang telah dijalankan secara konsisten.
“Kami hanya meneruskan tradisi. Wayang adalah napas kebudayaan Jawa, dan Malam Jumat Kliwon menjadi momentum spiritual sekaligus kultural untuk menjaga kesinambungan itu,” tuturnya.
Menurut Ki Sindhunata, keberlanjutan tradisi tidak cukup hanya dengan pementasan, tetapi juga melalui edukasi dan regenerasi. Hal itu tampak dalam extra show Sindhu Laras Bocah, yang memberi ruang bagi anak-anak untuk terlibat langsung dalam dunia karawitan dan pedalangan.
Ketua Sindhu Laras Bocah, Sindhunata Gesit Widiarto, menyampaikan bahwa pembinaan seni sejak usia dini menjadi kunci masa depan wayang.
“Anak-anak kami ajak mencintai wayang bukan dengan paksaan, tapi dengan rasa senang. Mereka belajar menabuh, nembang, sekaligus memahami makna cerita,” ungkapnya.
Pagelaran yang telah memasuki edisi ke-333 ini menjadi penanda kuat bahwa tradisi tidak pernah usang ketika dijaga dengan kesungguhan. Di TBRS malam itu, wayang kulit tidak hanya bergerak di balik kelir, tetapi hidup dalam komitmen bersama—seniman, komunitas, dan pemangku kebijakan—untuk memastikan budaya tetap bernapas di tengah zaman yang terus berubah.
(Ganang)
