SEMARANG || sidikutama.my.id -Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen, berencana meluncurkan aplikasi khusus untuk meningkatkan perlindungan bagi pengemudi ojek online (ojol) perempuan dari ancaman pelecehan maupun kekerasan saat bekerja. Rencana tersebut disampaikan dalam kegiatan Ngabuburide Berenergi yang digelar oleh Pertamina Patra Niaga di Kantor Regional Jawa Bagian Tengah, Jalan Pemuda 114, Semarang, Jumat (6/3/2026) petang.
Kegiatan berlangsung dalam suasana akrab dan meriah. Selain diikuti komunitas ojol dan komunitas Vespa, acara itu juga dihadiri mahasiswa Aceh yang terdampak bencana serta anak-anak yatim. Dalam kesempatan tersebut, Taj Yasin turut melakukan touring vespa bersama peserta untuk meninjau ketersediaan bahan bakar di sejumlah SPBU di Kota Semarang.
Dalam sambutannya, pria yang akrab disapa Gus Yasin itu menyampaikan apresiasi kepada para pengemudi ojol atas peran mereka dalam memberikan layanan transportasi kepada masyarakat. Ia mengaku sering memanfaatkan jasa ojol dalam aktivitas sehari-hari.
“Saya termasuk yang senang menggunakan ojol. Sudah lama tidak bertemu langsung dengan teman-teman di lapangan yang biasanya mangkal di berbagai titik,” ujarnya disambut tepuk tangan para pengemudi.
Menurutnya, keberadaan ojol telah memberi kontribusi terhadap perputaran ekonomi di Jawa Tengah. Ia berharap menjelang Lebaran hingga masa libur Idulfitri, jumlah pesanan layanan transportasi daring meningkat seiring bertambahnya wisatawan yang berkunjung ke berbagai daerah di provinsi tersebut.
Pada kesempatan itu, Taj Yasin juga menaruh perhatian khusus terhadap pengemudi ojol perempuan. Ia mengungkapkan, pemerintah provinsi tengah menyiapkan aplikasi yang memungkinkan para pengemudi perempuan meminta bantuan dengan cepat apabila menghadapi situasi berbahaya.
Gagasan tersebut, kata dia, muncul setelah berdialog dengan komunitas Srikandi Ojol dan Komunitas Kebaya yang datang dari Purwokerto. Dari perbincangan tersebut terungkap bahwa kondisi keamanan di Jawa Tengah relatif baik, namun langkah pencegahan tetap diperlukan.
“Aplikasi ini nantinya memungkinkan driver menekan tombol darurat yang langsung terhubung dengan lingkungan sekitar, termasuk RT setempat. Harapannya, para srikandi ojol bisa lebih terlindungi dari tindakan tidak menyenangkan saat bekerja,” jelasnya.
Ia berharap aplikasi tersebut dapat segera diluncurkan dan diterapkan tidak hanya di Kota Semarang, tetapi juga di kota-kota lain di Jawa Tengah.
Menanggapi rencana tersebut, perwakilan Komunitas Ojol Semarang, Dewi, menyambut positif inisiatif pemerintah daerah. Menurutnya, pekerjaan sebagai pengemudi ojol perempuan masih kerap dipandang sebelah mata dan memiliki risiko tersendiri di lapangan.
Selama tujuh tahun bekerja sebagai pengemudi ojol, Dewi mengaku belum pernah mengalami kekerasan fisik. Namun ia pernah menghadapi perlakuan verbal yang tidak menyenangkan ketika mengantar penumpang dari Semarang menuju Salatiga.
“Menurut saya ini terobosan yang bagus. Kami berterima kasih atas perhatian Pemprov Jawa Tengah yang ingin memberikan perlindungan lebih bagi driver perempuan,” katanya.
Apresiasi juga disampaikan Ketua Ikatan Mahasiswa Aceh di Semarang, M. Haikal Zalfah. Ia mengaku terkesan dengan kepedulian Pemerintah Provinsi Jawa Tengah terhadap mahasiswa Aceh yang terdampak bencana di daerah asalnya.
Menurut Haikal, dukungan yang diberikan pemerintah provinsi tidak berhenti pada masa tanggap darurat saja. Hingga kini, kata dia, pemerintah daerah masih terus memantau kondisi dan kebutuhan para mahasiswa Aceh yang sedang menempuh pendidikan di Semarang.
“Kami sangat berterima kasih karena perhatian dari Pemprov Jawa Tengah tidak hanya diberikan selama beberapa bulan, tetapi terus berlanjut hingga sekarang,” ujarnya.
(Ganang)
