SEMARANG || sidikutama.my.id - Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi mengajak mahasiswa mengambil peran strategis sebagai motor penggerak perubahan dalam pembangunan daerah. Di tengah kompleksitas persoalan yang kian berlapis, pendekatan parsial dinilai tidak lagi memadai. Karena itu, keterlibatan seluruh elemen, termasuk kalangan mahasiswa, menjadi kunci melalui skema collaborative government.
Ajakan tersebut disampaikan Luthfi saat menghadiri halal bihalal dan tasyakuran Hari Lahir ke-66 Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) di Gedung Gradhika Bhakti Praja, Semarang, Jumat (17/4/2026). Di hadapan ratusan kader dan alumni PMII, ia menekankan pentingnya kehadiran nyata mahasiswa di tengah masyarakat, bukan sekadar menjadi penonton dinamika perubahan.
“Jangan hanya menonton perubahan. Kita harus menjadi pelaku yang mengubah Jawa Tengah di pundak kita bersama,” ujar Luthfi.
Sebagai alumnus PMII, Luthfi menilai tantangan pembangunan saat ini menuntut kerja kolektif lintas sektor. Ia mendorong terbentuknya “super team” yang melibatkan pemerintah, akademisi, mahasiswa, hingga masyarakat sipil dalam satu gerak yang terkoordinasi.
“Kita harus bergerak bersama. Pemerintah tidak bisa berjalan sendiri, begitu pula elemen lainnya,” tegasnya.
Dalam kesempatan itu, Luthfi juga memaparkan capaian penurunan angka kemiskinan di Jawa Tengah, dari 9,58 persen menjadi 9,39 persen. Menurutnya, capaian tersebut merupakan hasil kerja bersama berbagai pihak, bukan semata kinerja satu institusi.
“Penurunan ini buah kolaborasi. Semua pihak terlibat dan berkontribusi,” ujarnya.
Lebih jauh, ia mendorong kader PMII untuk terlibat langsung dalam isu-isu konkret di lapangan, termasuk penanganan bencana yang kerap melanda sejumlah wilayah di Jawa Tengah. Kehadiran nyata, kata dia, menjadi indikator penting dalam mengukur efektivitas sebuah gerakan mahasiswa.
“Kalau tidak hadir di tengah masyarakat, maka kita hanya menjadi penonton. Pergerakan harus terukur dari kontribusi langsung,” tandasnya.
Ia bahkan mengajak kader PMII untuk tidak ragu turun langsung dalam aksi-aksi sosial, meski harus berhadapan dengan kondisi lapangan yang tidak nyaman.
“Semakin Anda terlibat di lapangan, semakin terasa manfaat pergerakan itu,” ujarnya, disambut antusias peserta.
Menutup sambutannya, Luthfi menegaskan komitmennya membuka ruang komunikasi seluas-luasnya bagi masyarakat, termasuk organisasi kepemudaan. Ia memastikan akses dialog dengan pemerintah tetap terbuka.
“Rumah Gubernur adalah rumah rakyat. Siapa pun boleh datang dan berdiskusi,” katanya.
Sementara itu, Ketua Umum PB IKA-PMII Fathan Subkhi menilai usia PMII yang telah memasuki 66 tahun menuntut kontribusi yang lebih konkret dari kader dan alumni dalam pembangunan bangsa.
“PMII sudah matang. Saatnya memperkuat peran dan kontribusi nyata,” ujarnya.
Ketua PW IKA-PMII Jawa Tengah Musahadi menambahkan, momentum halal bihalal ini menjadi ajang konsolidasi untuk memperkuat sinergi antara alumni, kader, dan pemerintah daerah.
“Ini momentum mempererat kebersamaan dan mengoptimalkan potensi besar alumni demi kemanfaatan masyarakat,” katanya.
(Ganang)
