MEDIA ONLINE SIDIKUTAMA.MY.ID | BERITA TERUPDATE DAN TERPERCAYA | MEDIA TV 📺 ONLINE Rakor Ketahanan Pangan di Demak, Polisi Tekankan Optimalisasi Lahan hingga Serapan Bulog

Rakor Ketahanan Pangan di Demak, Polisi Tekankan Optimalisasi Lahan hingga Serapan Bulog


DEMAK || sidikutama.my.id - Kepolisian Resor Demak mendorong penguatan ketahanan pangan melalui optimalisasi lahan dan peningkatan serapan hasil panen oleh Bulog. Isu tersebut mengemuka dalam rapat koordinasi lintas sektor yang digelar di Aula Wicaksana Laghawa, Selasa (14/4/2026).

Rapat dihadiri unsur pemerintah daerah dan pemangku kepentingan, antara lain Kepala Kantor Ketahanan Pangan Kabupaten Demak Muhammad Mathori, perwakilan Dinas Pertanian, Badan Pusat Statistik (BPS), Bulog Kancab Semarang, ADM KPH Semarang, serta perbankan seperti BRI, Bank Mandiri, dan Bank BTN Cabang Demak.

Kapolres Demak AKBP Arrizal Samelino Gandasaputra menegaskan, ketahanan pangan tidak dapat dipisahkan dari stabilitas keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas). Menurut dia, gejolak harga dan kelangkaan bahan pokok berpotensi memicu gangguan sosial.

“Ketahanan pangan beririsan langsung dengan kamtibmas. Karena itu, langkah antisipatif harus dilakukan bersama agar potensi gangguan bisa ditekan,” ujarnya.

Ia menjelaskan, program ketahanan pangan yang telah berjalan sejak 2025 kini memasuki tahap penguatan pada 2026 dan menjadi bagian dari prioritas nasional. Dalam konteks itu, Polres Demak turut mengambil peran dalam mendorong percepatan swasembada, khususnya pada komoditas jagung.

Dalam forum tersebut, teridentifikasi tiga persoalan utama. Pertama, pemanfaatan lahan yang belum optimal. Tercatat potensi lahan milik Polri sekitar 1.200 meter persegi, lahan pertanian sekitar 44,72 hektare, serta potensi lahan berdasarkan data Dinas Pertanian mencapai 2.362 hektare.

Kedua, rendahnya serapan hasil panen oleh Bulog. Dari target 8.500 ton pada 2026, realisasi penyerapan baru mencapai 72 ton. Kondisi ini dinilai berimplikasi pada stabilitas harga sekaligus kesejahteraan petani.

Ketiga, terbatasnya akses permodalan. Minimnya pemanfaatan Kredit Usaha Rakyat (KUR) disebut berkaitan dengan kurangnya sosialisasi kepada petani.

“Menghadapi persoalan ini tidak bisa sektoral. Diperlukan sinergi lintas sektor agar solusi yang diambil efektif dan berkelanjutan,” kata Arrizal.

Sebagai tindak lanjut, Polres Demak mendorong sejumlah langkah strategis, antara lain optimalisasi lahan tidur, penguatan koordinasi dengan Bulog untuk meningkatkan serapan gabah atau jagung petani, serta perluasan akses pembiayaan melalui KUR.

Selain itu, aspek edukasi dan pendampingan dinilai krusial, terutama dalam pengelolaan pembiayaan dan penerapan teknologi pascapanen. Salah satu persoalan teknis yang disoroti adalah pengeringan kadar air jagung yang masih menjadi kendala di tingkat petani.

Kapolres berharap, rakor ini tidak berhenti pada tataran wacana, melainkan menghasilkan langkah konkret yang berdampak pada peningkatan produksi dan kesejahteraan petani.

“Kolaborasi menjadi kunci untuk memperkuat ketahanan pangan sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” ujarnya.

(Ganang)

Lebih baru Lebih lama

MEDIA ONLINE TERUPDATE DAN TERPERCAYA