SEMARANG | | sidikutama.my.id - Teater Lingkar Semarang menandai usia ke-46 dengan rangkaian kegiatan yang memadukan kekuatan tradisi dan kehangatan kebersamaan. Perayaan ini tak sekadar seremoni, tetapi juga menjadi ruang refleksi untuk mengenang sosok pendiri yang telah meletakkan fondasi nilai dan arah perjalanan komunitas.
Perhelatan diawali dengan Pagelaran Wayang Kulit Jumat Kliwon ke-335 pada Kamis (2/4/2026). Dalang Ki Kasim Purwo Wasito membawakan lakon Dursasana Gugur, menghadirkan narasi klasik sarat pesan moral di hadapan pecinta seni pewayangan Semarang. Kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Semarang, Teater Lingkar, dan PEPADI Kota Semarang - sebuah sinergi yang menegaskan komitmen pelestarian budaya di tengah arus modernisasi.
Dua hari berselang, Sabtu (4/4/2026), suasana bergeser menjadi lebih intim dalam agenda halal bihalal dan tasyakuran di Sanggar Teater Lingkar. Mengusung tema “Teater Lingkar Selalu di Hati”, acara ini mempertemukan lintas generasi dalam nuansa hangat sekaligus haru.
Momen paling menyentuh hadir saat pemutaran video kenangan almarhum Mas Ton, pendiri Teater Lingkar. Melalui rekaman tersebut, kembali dihidupkan kisah awal berdirinya komunitas pada 4 Maret 1980, berangkat dari kegelisahan terhadap anak-anak muda di kawasan Tegalwareng—kini dikenal sebagai Taman Budaya Raden Saleh - yang kala itu membutuhkan ruang ekspresi yang lebih terarah.
Dari kegelisahan itu lahir gagasan membangun komunitas teater sebagai wadah pembinaan. Nama “Lingkar” dipilih dengan filosofi mendalam: satu titik pusat sebagai tujuan bersama membentuk manusia berakhlak, dengan jari-jari yang melambangkan kesetaraan hak dan kewajiban antaranggota. Sebuah konsep yang menekankan bahwa setiap tindakan individu akan berdampak pada keseluruhan komunitas.
Pesan almarhum tentang pentingnya budaya sebagai benteng bangsa kembali menggema di ruang itu, menguatkan tekad seluruh anggota untuk menjaga warisan nilai yang telah ditanamkan.
Di tengah suasana tersebut, Ketua Teater Lingkar saat ini, Ki Sindhunata Gesit Widiarto, menegaskan komitmennya melanjutkan estafet kepemimpinan. Ia menyebut amanah yang diembannya sebagai tanggung jawab kolektif untuk memastikan nilai-nilai yang diwariskan tidak berhenti, melainkan terus tumbuh dalam setiap generasi.
Teater Lingkar, menurutnya, harus tetap menjadi “rumah”—ruang terbuka bagi siapa saja yang ingin belajar, berkarya, dan mencintai budaya. Selama semangat kebersamaan dan kesetaraan dijaga, api Lingkar diyakini tak akan padam.
Perayaan HUT ke-46 ini pun menjadi lebih dari sekadar penanda usia. Ia menjelma sebagai pengikat ingatan, penguat identitas, sekaligus pembaruan janji untuk terus menyalakan cahaya kebudayaan di Kota Semarang dan Indonesia.
Teater Lingkar bukan hanya komunitas seni pertunjukan, melainkan ruang hidup yang dibangun di atas persaudaraan, tanggung jawab, dan cinta budaya. Dan selama nilai-nilai itu dirawat, jejak almarhum Mas Ton akan terus hidup di setiap langkahnya.
( Ganang)
