MEDIA ONLINE SIDIKUTAMA.MY.ID | BERITA TERUPDATE DAN TERPERCAYA | MEDIA TV 📺 ONLINE Malam Kliwon ke-337, Saat Wayang Menjaga Denyut Budaya di Semarang

Malam Kliwon ke-337, Saat Wayang Menjaga Denyut Budaya di Semarang


SEMARANG || sidikutama.my.id - Di tengah derasnya arus budaya digital, denting gamelan dan bayang-bayang tokoh pewayangan masih mampu menyatukan beragam generasi. Hal itu kembali terlihat dalam Pagelaran Wayang Kulit Malam Jumat Kliwon ke-337 di Taman Budaya Raden Saleh (TBRS), Semarang, Jumat malam.

Kegiatan yang digelar secara konsisten oleh Teater Lingkar Semarang bekerja sama dengan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Semarang serta didukung Persatuan Pedalangan Indonesia (Pepadi) Kota Semarang itu menjadi ruang perjumpaan antara tradisi dan masa kini.

Malam itu, dalang muda Ki MPP Bayu Aji membawakan lakon Karmayoga Drupada. Kisah tersebut menuturkan tentang ketulusan menjalankan kewajiban, tanggung jawab moral, kesetiaan pada kebenaran, serta menjaga kehormatan diri di tengah berbagai ujian kehidupan.

TBRS dipenuhi penonton dari beragam latar belakang. Selain para pecinta wayang dan budayawan, hadir pula mahasiswa dari Universitas Semarang (USM) dan Universitas Negeri Semarang (UNNES), komunitas pemerhati budaya, hingga pelawak kondang Sumar Bagyo atau yang akrab dikenal sebagai Gareng Semarang.

Besarnya antusiasme generasi muda menjadi penanda bahwa wayang belum kehilangan daya hidupnya. Di tengah dominasi hiburan serba instan, panggung tradisi tetap mampu menjadi ruang belajar yang akrab dan menyenangkan.

"Saya bukan orang Jawa, tetapi saya mencintai wayang. Di dalamnya ada filsafat hidup, pendidikan karakter, humor, bahkan kritik sosial yang disampaikan dengan santun," ujar Azir Zubair, advokat asal Ambon yang kini menetap di Semarang. Ia berharap pagelaran semacam ini terus hadir untuk generasi mendatang.

Bagi Ki MPP Bayu Aji, wayang bukan sekadar tontonan. "Ini sarana silaturahmi dan edukasi. Orang berkumpul, saling mengenal, sekaligus belajar tentang kehidupan," katanya.

Suasana kian hangat ketika Sumar Bagyo menyampaikan pesan tentang pentingnya prinsip hidup "7 T": tujuan, teken atau komitmen, tekun, temen atau jujur, terampil, takwa, serta mampu menerima tekanan hidup dan takdir dengan lapang.

Ketua Teater Lingkar Semarang, Sindhunata Gesit, mengungkapkan rasa syukur atas keberlangsungan pagelaran yang kini memasuki edisi ke-337. Menurutnya, konsistensi adalah kunci menjaga tradisi tetap hidup.

"Pagelaran ini merupakan ikhtiar meneruskan warisan almarhum Maston Lingkar. Kami ingin wayang terus hadir sebagai ruang budaya yang dekat dengan masyarakat," ujarnya.

Senada, Kepala UPTD TBRS Semarang, Tulus Haris, menilai pagelaran Malam Jumat Kliwon bukan sekadar hiburan, melainkan media pendidikan budaya yang efektif, terutama bagi generasi muda agar tidak tercerabut dari akar budayanya.

Malam Jumat Kliwon ke-337 kembali membuktikan bahwa wayang kulit bukan hanya tontonan, melainkan tuntunan. Di bawah cahaya kelir yang menari bersama kisah-kisah pewayangan, Semarang mengirimkan pesan sederhana: selama ada yang merawat dan mencintainya, budaya akan selalu menemukan jalan untuk tetap hidup.

(Ganang)

Lebih baru Lebih lama

MEDIA ONLINE TERUPDATE DAN TERPERCAYA