Nain Suryono Membuka Indra Ilahi, Menguak Makna Sujud Sapto Darmo dalam Kehidupan Agung


Sidikutama.my.id
- Surabaya, 29 Juni 2025 - Nain Suryono, salah satu tuntunan utama di Sanggar Candi Busono, Jemursari Selatan 6, Surabaya. Sanggar ini dikenal sebagai pusat kegiatan spiritual kejawen Sapto Darmo, ajaran kebatinan luhur yang terus bertahan di tengah arus zaman.

Dalam wawancara eksklusif ini, Nain Suryono mengungkap bahwa kegiatan ritual Sujud Sapto Darmo digelar secara berkala, biasanya dalam momen-momen spiritual penting seperti bulan Suro yang diperingati setiap tahun sekali. Untuk tahun ini, peringatan tersebut memiliki makna khusus karena bertepatan dengan tahun 1959 kalender ajaran Sapto Darmo.

Tema: Membuka Indra Ilahi, Menjadi Pribadi yang Seimbang

Dengan mengusung tema "Membuka Indra Agar Menjadi Manusia Nur Ilahi", acara ini menekankan pentingnya menyucikan diri agar manusia mampu membuka "Jaket Alif" dalam dirinya - simbolisasi dari kedalaman spiritual, kesejatian pribadi, dan kesadaran tertinggi.

“Manusia itu pada dasarnya memiliki indra batin, tapi perlu dibuka dan dibersihkan dengan cahaya nur ilahi. Bila ini dilakukan dengan benar, maka seseorang akan mampu mengimplementasikan nilai-nilai kehidupan agung dalam masyarakat,” jelas Nain Suryono.


Makna Sujud Sapto Darmo: Kendalikan 11 Saudara, Satukan Diri dengan Nur Ilahi

Dalam ajaran Sapto Darmo, ritual sujud bukan sekadar gerakan fisik, melainkan bentuk penyerahan total kepada Yang Maha Suci. Manusia dipercaya memiliki 11 unsur saudara batiniah (sedulur sanga) dan satu unsur nur ilahi, yang disebut Yang Mas Suci.

“Dalam sujud itu, kita mengarahkan agar yang sujud bukan badan kita, melainkan nur ilahi kita yang suci. Ketika nur ilahi itu aktif dan sedulur 11 bisa kita kendalikan, maka akan tercipta keseimbangan hidup antara pribadi, semesta, dan masyarakat,” terang Suryono dengan penuh makna.


Pendidikan Spiritual dari Usia Dini hingga Dewasa

Yang menarik, Sanggar Candi Busono juga melakukan pembinaan spiritual kepada anak-anak mulai dari usia TK, SD, hingga SMP, SMA dan mahasiswa. Tujuannya, menanamkan kesadaran akan keberadaan nur ilahi sejak dini agar mereka tumbuh menjadi pribadi yang seimbang secara spiritual, sosial, dan budaya.

“Kalau anak-anak dari kecil sudah biasa menyatu dengan nur ilahi, maka kelak ketika dewasa ia akan menjadi manusia yang selaras dengan alam, masyarakat, dan budayanya,” tambahnya.

Refleksi Kejawen dalam Dunia Modern

Di tengah modernisasi yang serba cepat, ajaran Sapto Darmo tetap memberikan ruang refleksi, menekankan pentingnya keseimbangan spiritual di tengah kehidupan material. Nain Suryono menegaskan bahwa ajaran ini bukan mistik kosong, melainkan panduan hidup menuju harmoni batin, kedamaian, dan pengabdian sejati.

Reporter : Ali Wafi
Lebih baru Lebih lama

MEDIA ONLINE TERUPDATE DAN TERPERCAYA