Sidikutama.my.id - Surabaya, 29 Juni 2025 - Dalam suasana penuh kekhusyukan dan nuansa budaya spiritual Jawa, Sanggar Candi Busana Sapto Darmo yang beralamat di Jl. Jemursari Selatan 6 No. 30–32, Wonosari, Surabaya, menggelar kegiatan ritual doa bersama. Acara ini dihadiri oleh para penghayat kepercayaan dan warga yang memiliki keimanan terhadap ajaran ilmu Jawa Sapto Darmo, yang merupakan salah satu representasi dari ajaran Kejawen.
Kegiatan yang digelar secara rutin ini menjadi wadah spiritual dan kebudayaan bagi komunitas yang menjunjung tinggi nilai-nilai kearifan lokal, khususnya dalam praktik keagamaan yang tidak terpisah dari budaya Jawa. Prosesi doa dilaksanakan dalam suasana yang sakral, diawali dengan pembersihan ruang ritual menggunakan air suci dan dupa, diiringi lantunan doa dan tembang Jawa.
Penghayatan Kejawen dan Nilai Ketuhanan
Menurut penuturan salah satu tokoh penghayat, Sapto Darmo tidak sekadar menjadi ajaran spiritual, melainkan menjadi cara hidup yang menuntun para pemeluknya untuk mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa dengan jalan kearifan lokal. "Kami tidak memisahkan antara agama dan budaya. Kejawen, termasuk ajaran Sapto Darmo, adalah jalan spiritual yang mengakar dari leluhur kami," ungkap salah satu tokoh yang hadir, di sanggar.
Ritual doa ini menjadi simbol penghayatan nilai Ketuhanan melalui pendekatan yang selaras dengan alam dan tata krama Jawa. Dalam ajaran Sapto Darmo, dikenal tujuh jalan utama kehidupan spiritual, yang disebut “Sapto,” sebagai tuntunan menuju kesempurnaan batin.
Sebagaimana tercantum dalam UUD 1945 dan diperkuat oleh putusan Mahkamah Konstitusi tahun 2017, negara mengakui hak penghayat kepercayaan seperti Sapto Darmo sebagai bagian dari kekayaan spiritual bangsa. Kegiatan yang berlangsung di Sanggar Candi Busana ini pun mencerminkan perwujudan kebebasan berkeyakinan yang dilindungi undang-undang.
Kegiatan tersebut turut didokumentasikan oleh komunitas dan diapresiasi oleh warga sekitar karena mampu menjaga suasana damai, toleran, dan penuh kekeluargaan di tengah masyarakat yang majemuk.
Menjaga Warisan Leluhur di Tengah Modernitas Di era yang serba digital, keberadaan sanggar dan kegiatan seperti ini menjadi benteng terakhir bagi pelestarian ajaran dan praktik spiritual lokal. Komunitas Sapto Darmo terus berkomitmen untuk melestarikan ajaran-ajaran luhur dengan pendekatan terbuka dan inklusif terhadap generasi muda.
“Ini bukan hanya soal masa lalu, tapi bagaimana warisan ini tetap relevan untuk masa kini dan masa depan,” ujar salah satu pengikut rituwal sanggar, sembari menutup kegiatan dengan pembacaan doa bersama untuk keselamatan bangsa dan alam semesta.
Reporter : Ali Wafi

